Tim SMA Internasional Islamic High School Jakarta

08-01-13 Admin 0 comment

Tim SMA Internasional Islamic High School Jakarta: Danny Ilham, Sayyid Fadil Mohammad, Allen Suci Ananda, Anindita Naraswari, Safira Khairina, Niki Zulfah, Tara Vergita, Harry Devara Karianing Cipto.

Selain home stay di NZ, ada juga diantara kami yang belajar bahasa inggris ke Pare, Kediri, Jawa Timur. Walaupun bukan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, di Pare bejibun tempat kursus bahasa inggris yang terkenal. Kota yang dijuluki Kampung Inggris itu sudah terkenal di seluruh Indonesia karena banyak orang dari berbagai daerah lain yang datang buat belajar bahasa inggris di sini. Kami diajarkan berbicara bahasa inggris dengan cara yang simpel dan menarik. Jadi, kami gak perlu repot-repot mengeluarkan biaya besar untuk kursus. Hanya dengan bermodalkan niat dan biaya gak terlalu tinggi, berbicara bahasa inggris pun bisa lancar. Selama home stay di Pare, kami tinggal dan berbaur dengan masyarakat setempat. Berkat home stay di Pare, kami dapat belajar tentang nilai kebersamaan dan tolong menolong dengan masyarakat negeri sendiri. Terlebih lagi, kami dapat belajar hidup mandiri karena harus tinggal jauh dari rumah. Di Pare, kami belajar di sebuah lembaga kursus yang bernama Dynamic English Course. Para guru yang mengajar kami ramah dan rendah hati. Ada pula beberapa mentor yang membantu dan membimbing kami. Mereka mendukung kami berbahasa inggris hingga terbiasa. Setiap weekend kami mengelilingi tempat wisata yang ada di Kediri. Kami menyebutnya city tour. Selain itu, kami mengunjungi beberapa kota lain, seperti Malang, Blitar, dan Yogyakarta. Dengan kegiatan seperti ini, pandangan kami terhadap Indonesia menjadi lebih luas. Indonesia juga kaya dengan tempat- tempat wisata. Suasana di Kediri lebih kekeluargaan karena di sini kami diajari kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama. Kami, yang biasa tinggal di kota besar, jarang banget merasakan kesederhanaan hidup atau suasana kekeluargaan seperti itu. Maklum, di rumah sendiri, kami terbiasa menggunakan jasa “asisten”, dikit-dikit teriak, “mbaak!!!” jadi, terasa banget deh perbedaan home stay dengan di rumah sendiri.

 

Sumber: Kompas.com, Jumat, 3 Juli 2009



Leave a reply